News

Plastik Cepat Terurai dan Upaya Nasional Mengatasi Krisis Sampah Plastik

Biodegradable packaging dari biomassa seperti pati dan selulosa dapat menjadi solusi ramah lingkungan untuk limbah kemasan plastik, terutama kemasan pangan/ilustrasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA -- Sampah plastik masih menjadi ancaman besar bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat Indonesia. Setiap tahun, jumlah plastik sekali pakai yang tertumpuk di daratan dan lautan terus bertambah, sementara kemampuan sistem pengelolaan sampah untuk menguraikannya masih sangat terbatas.

Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dan sumber dari Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia menghasilkan sekitar 56,6 juta ton sampah setiap tahun, dengan sekitar 10–12 juta ton di antaranya adalah sampah plastik yang sebagian besar mencemari lingkungan daratan dan perairan, termasuk sungai dan lautan.

Dalam situasi ini, plastik cepat terurai muncul sebagai solusi inovatif. Saat ini, riset dan pengembangan kemasan pangan berbasis plastik cepat terurai semakin digencarkan oleh para peneliti, salah satunya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Plastik cepat terurai dikembangkan dengan menggunakan bahan-bahan berbasis biomassa lokal, seperti pati aren dan selulosa. Inovasi ini tidak hanya mempercepat proses penguraian, tetapi juga memanfaatkan sumber daya agrikultur dalam negeri yang melimpah.

"Biodegradable packaging dari biomassa seperti pati dan selulosa dapat menjadi solusi ramah lingkungan untuk limbah kemasan plastik, terutama kemasan pangan," ujar Dr Andy Budi dari BRIN dikutip dari laman resmi.

Selain pengembangan plastik cepat terurai berbasis biomassa, Indonesia juga memiliki inovasi lokal lain yang berkontribusi pada solusi krisis sampah plastik, yaitu teknologi Oxium. Oxium merupakan aditif berbasis mineral alami yang ditambahkan sekitar 3–5 persen ke dalam plastik konvensional tanpa mengubah fungsi maupun kekuatan plastik saat digunakan.

Keunggulan utama Oxium adalah kemampuannya mempercepat proses penguraian plastik menjadi 2–5 tahun saja, jauh lebih cepat dibandingkan plastik biasa yang bisa ratusan tahun. Proses penguraian dimulai melalui pemutusan rantai polimer — paparan sinar matahari, oksigen, dan panas — dari rantai panjang menjadi potongan lebih kecil sehingga mudah dikonsumsi dan diuraikan oleh mikroba alam menjadi biomassa, air, serta karbon dioksida.

Penelitian Universitas Diponegoro dan Universitas Dian Nuswantoro membuktikan bahwa plastik dengan aditif Oxium memiliki tingkat penguraian dan kemampuan menyerap air lebih tinggi sehingga proses konsumsi oleh mikroalga dan mikroba tanah berlangsung lebih cepat dibanding plastik konvensional. Hal ini mendukung upaya pengurangan limbah mikroplastik, sebab setelah terurai, tidak ada residu mikroplastik tertinggal di lingkungan.

Teknologi Oxium juga telah memenuhi standar internasional, seperti ASTM D6954 dan RoHS, serta memperoleh sertifikasi keamanan dari BPOM dan FDA, menegaskan bahwa inovasi ini aman bagi ekosistem maupun manusia.

Hasil riset Jurnal Pijar MIPA Universitas Lampung di berbagai kota, termasuk Surakarta dan Bandar Lampung, mendukung temuan BRIN bahwa masyarakat mulai bersedia membayar lebih untuk kemasan berbahan dasar alami ini. Selain dapat terurai dalam waktu jauh lebih cepat antara, 3 hingga 6 bulan di lingkungan yang optimal, kemasan ini punya jejak karbon serta konsumsi energi yang lebih rendah dalam proses produksinya.

Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan plastik konvensional yang membutuhkan ratusan tahun untuk bisa terurai dan berpotensi menimbulkan limbah mikroplastik di lingkungan.

Lebih jauh lagi, penelitian BRIN memberi perhatian khusus pada dampak limbah mikroplastik yang dihasilkan plastik konvensional. Menurut BRIN, kandungan mikroplastik berbahaya untuk kesehatan manusia dan lingkungan karena dapat menyebabkan gangguan hormonal bahkan kanker, serta tidak mudah dihancurkan oleh organisme hidup.

Oleh karena itu, pengembangan kemasan pangan berbasis biomassa tidak hanya menargetkan pengurangan sampah, tetapi juga mencegah masalah kesehatan yang disebabkan mikroplastik dalam rantai makanan manusia.

Inovasi dan pengembangan teknologi skala industri juga diperlukan agar kualitas dan daya tahan kemasan pangan berbasis biomassa dapat menyamai atau bahkan melampaui, plastik konvensional. Terkait hal ini, BRIN menekankan bahwa upaya riset juga tengah diarahkan pada kemasan aktif yang memiliki sifat antimikroba, serta kemasan pintar yang dapat mendeteksi kualitas pangan secara real-time.”

Pemerintah Indonesia pun telah menunjukkan dukungan dengan mendorong regulasi dan insentif bagi industri yang mengembangkan dan menggunakan kemasan ramah lingkungan. Sinergi antara riset lembaga seperti BRIN dan kebijakan pemerintah menjadikan masa depan pengelolaan sampah plastik cepat terurai di Indonesia semakin prospektif.

Jika inovasi ini dapat diadopsi secara luas, bukan hanya pencemaran sampah plastik yang dapat ditekan, tetapi juga peluang peningkatan ekonomi berbasis sumber daya lokal akan terbuka lebar. Harapannya, plastik cepat terurai bisa menjadi salah satu kunci dalam menjaga kesehatan lingkungan sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan di tanah air.

Selain dari dalam negeri, inovasi plastik cepat terurai dengan waktu penguraian super cepat juga muncul di luar negeri, seperti plastik dari Jepang yang dapat larut dalam hitungan jam di air laut maupun tanah residu mikroplastik. Meskipun masih menghadapi tantangan besar dalam biaya produksi dan kesiapan infrastruktur untuk produksi massal, teknologi ini memberikan gambaran masa depan plastik ramah lingkungan yang dapat menjadi inspirasi.

Para ilmuwan menegaskan bahwa pengembangan plastik seperti ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi peningkatan limbah plastik yang diperkirakan mencapai angka ratusan juta ton pada dekade mendatang.

Upaya kolaboratif antara riset, industri, dan kebijakan pemerintah adalah kunci keberhasilan pengembangan plastik cepat terurai di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya dukungan regulasi dan insentif, riset terus dikembangkan agar biaya produksi dapat ditekan dan kualitas produk memenuhi standar industri.

Dengan demikian, diharapkan penggunaan plastik cepat terurai tidak hanya menjadi alternatif ramah lingkungan, tetapi juga menjadi solusi praktis dan ekonomis yang mampu menggantikan plastik konvensional secara luas di masyarakat.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

email: caricuan.republika@gmail.com