Ersa Mayori dan Shahnaz Haque Isi Seminar Parenting Membangun Fondasi dan Membentuk Karakter Anak yang Kuat di Era Digital

JAKARTA -- Mendidik anak di era digital menjadi tantang tersendiri bagi orang tua zaman sekarang. Maka dari itu, SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru berkolaborasi dengan komite menghadirkan seminar Parenting "Membangun Fondasi dan Membentuk Karakter Anak yang Kuat di Era Digital" dengan narasumber Shahnaz Haque dan moderator Ersa Mayori di Sporthall Li-ben School, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (30/8/2025)
"Jadi dalam kegiatan Komite, kami tidak hanya men-support anak tapi juga untuk ayah bunda. Karena itu kami menghadirkan seminar membangun fondasi dan karakter anak ini," ujar Ketua Komite SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru, Indah.
Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru, Ali Yusuf Syakir, menambahkan, kegiatan parenting kerja sama sekolah dan komite yang dihadiri para guru, orang tua, dan juga masyarakat adalah bentuk kerja sama maksimal semua pihak. "Ini dalam rangka melahirkan generasi emas," jelas dia.
Sementara itu, Ersa Mayori sebagai moderator mengatakan, era digital memiliki tantangan yang lebih kompleks. Dulu orang tua fokus hanya pada kesehatan, pendidikan bagus, dan menjadikan anak yang santun.
"Fokusnya hanya pada dunia nyata. Tapi saat ini kemajuan teknologi membawa banyak peluang tapi juga banyak hal negatif. Nah seminar ini bertujuan agar anak bisa memanfaatkan teknologi dengan baik dan juga mampu menghindar dari efek negatifnya," kata Ersa.
Sebagai pemateri, Shahnaz Haque pertama-tama menekankan pentingnya mengenal daya tangkap anak. "Jadi anak-anak kita memiliki daya tangkap yang berbeda. Misal kakaknya bisa saja daya tangkapnya 10 persen sedangkan adiknya 30 persen," ujarnya.
Shahnaz melanjutkan, gelombang otak itu bisa menerima informasi atau materi itu selama 3 minggu atau 21 hari. "Nah setelah 21 hari, ada 90 hari lagi. Jadi total 111 hari si anak bisa mencerna sebuah informasi," ujar dia.
Kemudian, lanjut Shahnaz, tanda bagaimana tahu bahwa anak bisa mengerti materi tersebut adalah di hari ke-66. "Kalau di hari ke-66 anak tidak mengeluh berarti lanjutkan. Tapi kalau mengeluh, berarti dia tidak suka dan tidak usah dilanjutkan. Kita bisa cari materi lain yang dia suka," jelas dia.
Dari sini, sambung Shahnaz, orang tua bisa melihat hal apa atau bidang apa yang anak sukai.
"Jadi kita harus cari dulu semangat anak kita di bidang apa. Dari situ kita bisa memanfaatkan teknologi yang saat ini sudah maju. Misal anak kita suka gambar, kita bisa memanfaatkan teknologi atau fitur menggambar yang ada di smartphone sehingga anak kita bisa menguasainya dengan baik. Jadi yang harus kita manfaatkan teknologinya dan yang harus kita pantau atau kurangi itu media sosialnya," ujar Shahnaz menjelaskan.
Yang kedua dan penting untuk dibagikan, Shahnaz mengatakan bahwa orang tua harus mengerti bahwa ada tiga tipe anak. Yang pertama adalah visual, kedua adalah auditory, dan ketiga kinestetik. "Jadi kita juga harus mengenal anak kita ada di tipe yang mana," cetus dia.
Hal penting ini, menurut Shahnaz, karena bisa membuat anak terhindar dari cyber bullying. Dengan perlakuan yang tepat, maka orang tua bisa membuat anak lebih nyaman dan terhindar dari cyber bullying.
"Misal anak visual dia lebih suka melihat atau membaca ketimbang mendengar. Jadi misal kalau kita mau Whatsapp, anak kita lebih suka di-chat ketimbang ditelepon. Beda dengan tipe auditory, dia lebih buka ditelepon atau menggunakan voice note. Ada lagi tipe anak yang kinestetik yaitu anak yang aktif bergerak. Biasanya kalau anak seperti ini lebih baik kita biarkan dan awasi sehingga dia bisa belajar dari kesalahannya sendiri ketimbang kita larang," pungkas Shahnaz.
